Waspada Terhadap Hasrat Keberhasilan Rohani

mu150424_hasyat pelayan

Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu” (Lukas 10:20).

KEDUNIAWIAN bukanlah jerat yang paling membahayakan kita sebagai pekerja Kristen. Juga bukan dosa. Jerat yang menjerumuskan kita adalah hasrat atau keinginan yang luar biasa untuk memperoleh keberhasilan rohani — spiritual success, yaitu keberhasilan yang diukur oleh, dan memiliki pola, tata cara zaman ini dimana kita hidup.

Jangan mencari sesuatu selain perkenan Allah, dan hendaklah selalu bersedia pergi kepada-Nya ”di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya” (Ibrani 13:13). Dalam Lukas 10:20, Yesus melarang murid-murid-Nya untuk bersukacita dalam pelayanan yang berhasil, namun tampaknya hal ini merupakan hal yang oleh kebanyakan kita memang menyukainya.

Kita telah dipengaruhi pandangan komersial, sehingga kita menghitung berapa banyak jiwa yang telah diselamatkan dan dikuduskan, kita bersyukur kepada Allah, dan kemudian kita menyangka bahwa segala sesuatunya beres.

Namun pekerjaan kita hanya mulai dimana kasih karunia Allah telah mengerjakan dasarnya. Pekerjaan kita bukanlah menyelamatkan jiwa, melainkan pemuridan — menjadikan mereka murid. Keselamatan dan pengudusan adalah karya kasih karunia Allah yang Mahakuasa, dan pekerjaan kita sebagai murid-Nya adalah mejadikan orang lain menjadi murid sampai hidup mereka sepenuhnya menyerah kepada Allah. Satu kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada Allah lebih berharga bagi-Nya ketimbang seratus kehidupan yang hanya dibangkitkan oleh Roh-Nya.

Sebagai pekerja Allah, kita harus menghasilkan orang-orang yang secara spiritualitas seperti kita, dan kehidupan seperti itu akan menjadi kesaksian Allah bagi kita sebagai pekerja-Nya. Allah membawa kita kepada suatu tolok ukur kehidupan melalui anugerah-Nya, dan kita bertanggung jawab untuk menghasilkan tolok ukur yang sama dalam hidup orang lain.

Jika seorang pekerja tidak menjalani kehidupan yang “tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kolose 3:3), maka dia cenderung menjadi “diktator yang menjengkelkan bagi yang lain. Banyak di antara kita menjadi “diktator”, dengan mendikte keinginan kita kepada perorangan dan kelompok.

Akan tetapi, Yesus tidak pernah mendikte kita dengan cara itu. Bila Tuhan berbicara tentang pemuridan, Dia selalu mendahului perkataan-Nya dengan “jika”, tidak pernah dengan pernyataan yang mendesak atau bersifat dogmatis — “Engkau harus”. Di dalam pemuridan ada hak untuk memilih.

Alkitab setahun: 2 Samuel 19-20; Lukas 18:1-23

mu160424

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s