Tempat Bagi Pengalaman Hidup Indah Dengan Allah

mu161001_maknapengalamandigunung

Yesus membawa ……. mereka ke sebuah gunung yang tinggi” (Markus 9:2)

KETIKA kita memandang segala hal dari perspektif Allah, kita akan mengalami seluruh saat pemuliaan di gunung – times of exaltation on the mountain  – yang membuat kita ingin tinggal tetap disana. Akan tetapi, Allah tidak pernah mengizinkan kita tinggal tetap disana.

Ujian yang sesungguhnya dari kehidupan rohani ialah dalam menunjukkan kemampuan untuk turun dari gunung. Jika kita hanya mempunyai kekuatan untuk naik, maka ada yang tidak beres.

Memang suatu yang menakjubkan berada diatas gunung bersama Allah, tetapi seseorang naik kesana hanya agar dia kemudian dapat turun dan menolong orang yang kerasukan setan di lembah (lih. Markus 9:14-19). Kita tidak dimaksudkan untuk berada di gunung, untuk menikmati terbitnya matahari atau atraksi keindahan lainnya dalam kehidupan. Tapi itu semua dimaksudkan semata-mata untuk menjadi saat-saat inspirasi. Kita dimaksudkan untuk ditempatkan di lembah dan menghadapi hal-hal biasa dalam kehidupan; dan disitulah kita harus membuktikan daya tahan (stamina) dan kekuatan kita.

Namun keserakahan rohani (spiritual selfishness)  kita selalu ingin saat-saat indah diatas gunung itu terulang kembali. Kita merasa bahwa kita dapat hidup dan berbicara seperti malaikat yang sempurna, seandainya saja kita dapat tinggal di puncak gunung.

Saat-saat pemuliaan itu luar biasa dan mempunyai arti tersendiri dalam hidup kita dengan Allah. Tetapi kita harus waspada untuk mencegah agar keserakah rohani kita tidak menjadikannya sebagai satu-satunya saat penting.

Kita cenderung untuk berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi itu dapat dirubahkan menjadi pelajaran yang berharga. Dalam kenyataan sesungguhnya, hal itu itu diubahkan menjadi sesuatu yang bahkan lebih baik dari pelajaran, yaitu karakter. Pengalaman puncak gunung tidak dimaksudkan untuk mengajarkan sesuatu kepada kita, tetapi itu dimaksudkan untuk membentuk pribadi kita.

Ada jebakan yang buruk dalam selalu bertanya,”Apakah kegunaan dari pengalaman ini?” Kita tidak pernah dapat mengukur hal-hal rohani dengan cara demikian. Saat berada di puncak gunung merupakan saat-saat yang jarang terjadi, dan itu dimaksudkan untuk sesuatu dalam tujuan Allah.

Alkitab dalam setahun: Jesaya 11-13; Epesus 4

mu161001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s