Tawar Hati dan Kedewasaan Rohani

mu161013_musa_panggilan

 

“….ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka” (Keluaran 2:11).

KETIKA Musa melihat penindasan atas bangsanya dia merasa pasti bahwa dia harus membebaskan mereka. Dalam kegeraman yang didorong rasa keadilan, dia mulai membela mereka. Setelah dia melancarkan pukulannya yang pertama demi Allah dan kebenaran, Allah membiarkan Musa masuk dalam tawar hati yang dalam, kehilangan semangat, dan mengutusnya ke padang gurun selama empat puluh tahun.

Pada akhir masa itu, Allah menampakkan diri kepada Musa dan berkata kepadanya, “...bawa umat-Ku… keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku …membawa orang Israel keluar dan Mesir” (Keluaran 3:10-11).

Pada awalnya Musa telah menyadari bahwa dialah orang yang harus membebaskan bangsa itu. Tetapi dia harus dilatih dan didisiplin oleh Allah terlebih dahulu. Dia benar dalam sudut pandang pribadinya, tetapi dia bukanlah orang yang tepat untuk tugas tersebut sampai dia belajar tentang persekutuan yang benar dan kesatuan dengan Allah.

Kita mungkin mempunyai visi tentang Allah dan pemahaman yang jelas mengenai apa yang Allah kehendaki, namun bila kita mulai melakukannya, ada waktunya bagi kita mengalami sesuatu yang serupa dengan empat puluh tahunnya Musa di padang belantara.

Adalah seperti Musa alami, ketika Allah seolah-olah telah mengabaikan segalanya, dan ketika kita benar-benar tawar hati, kehilangan semangat, Allah datang dan menghidupkan kembali panggilan-Nya kepada kita. Dan kemudian kita mulai gentar dan berkata, “Siapakah aku ini, maka aku harus pergi…?”

Kita harus belajar bahwa gerak langkah Allah terangkum dalam – “AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (Keluaran 3:14). Kita juga harus belajar bahwa usaha diri kita sendiri bagi Allah tidak menunjukkan apa-apa kecuali sikap tidak hormat bagi-Nya. Kita sendiri harus bersinar melalui hubungan pribadi dengan Allah, agar dapat berkenan kepada-Nya (Matius 3:17).

Kecendrungan kita, terfokus pada sudut pandang pribadi mengenai banyak hal; kita mempunyai visi dan lalu mengatakan, “Saya tahu, inilah yang Allah inginkan kulakukan.” Tetapi kita belum belajar untuk mengikuti gerak langkah Allah.

Jika Anda mengalami suatu masa tawar hati, kehilangan semangat, maka akan ada waktu pertumbuhan kedewasaan bagi Anda pribadi didepan.

 

Alkitab dalam setahun: Jesaya 41-42;  1 Thesalonika 1

mu161013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s