Sifat Impulsif Merintangi Perkembangan Kemuridan

mu_161021_luarbiasa_seharihari.jpg
 

“Akan tetapi kamu, Saudara-sudaraku yang terkasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci…” (Yudas 20).

SIFAT impulsif atau tindakan tanpa pikir-panjang, meledak-ledak, tidak ada pada Tuhan kita Yesus, tetapi Dia selalu bertindak dengan kekuatan yang tenang dan tidak pernah panik.

Kebanyakan dari kita mengembangkan kekristenan berdasarkan sifat kita sendiri, bukan berdasarkan sifat Allah. Sifat impulsif merupakan ciri khas kehidupan daging, dan Tuhan kita tidak berkenan dengannya, karena sifat impulsif itu merintangi perkembangan hidup seorang murid.

Perhatikanlah bagaimana cara Roh Allah memberikan kesadaran akan pengekangan terhadap sifat impulsif. Roh itu membawa kita kepada suatu kesadaran diri akan kebodohan diri, yang membuat kita segera ingin membela atau membenarkan diri.

Sifat impulsif ini tidak apa-apa ada di dalam diri seorang anak, tetapi berbahaya di dalam diri seorang pria atau wanita dewasa. Seorang dewasa yang impulsif selalu merupakan seorang pribadi yang manja. Sifat impulsif perlu dilatih menjadi intuitif melalui disiplin.

Kemuridan dibangun sepenuhnya atas dasar anugerah Allah yang adikodrati. Berjalan di atas air itu mudah bagi seseorang dengan keberanian impulsif, tetapi berjalan di atas tanah kering sebagai seorang murid Yesus Kristus adalah hal yang berbeda sama sekali. Petrus berjalan di atas air untuk pergi kepada Yesus, tetapi dia “mengikuti Dia dari jauh” di tanah kering (Markus 14:54).

Kita tidak memerlukan anugerah Allah untuk bertahan terhadap krisis. Sifat dan kebanggaan lahiriah cukup bagi kita untuk menghadapi tekanan dan ketegangan dengan gagah. Akan tetapi, dibutuhkan anugerah Allah yang adikodrati untuk hidup dua puluh empat jam setiap hari sebagai seorang percaya, menghadapi pekerjaan yang membosankan dan menghayati kehidupan rutin, tidak diperhatikan, dan atau diabaikan sebagai seorang murid Yesus.

Anggapan bahwa kita harus melakukan hal-hal yang istimewa (eksepsional) bagi Allah telah mendarah-daging di dalam kita, tetapi kita tidak perlu bertindak demikian. Kita harus menjadi luar biasa dalam hal-hal biasa dalam kehidupan, dan menjadi suci dalam lingkungan biasa, di antara orang-orang biasa – dan hal ini tidak dapat dipelajari dalam waktu yang sangat singkat.

Alkitab dalam setahun: Jesaya 62-64; 1 Timotius 1

mu161021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s