Sasaran Seorang Pengabar Injil

mu140923

 

Yesus …. berkata kepada mereka: ‘Sekarang kita pergi ke Yerusalem …’” (Lukas 18:31)

 DALAM kehidupan lahiriah, ambisi kita berubah seiring pertumbuhan kita, tetapi dalam kehidupan Kekritenan sasarannya — goalnya, telah ditentukan sejak pada awalnya, dan sasaran awal dan akhirnya tepat sama, yaitu Tuhan kita sendiri. Kita mulai dengan Kristus dan kita menyudahi dengan Dia – “sampai kita … tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus….” (Epesus 4:13), bukan semata pada gagasan kita sendiri tentang bagaimana seharusnya kehidupan Kekristenan.

Sasaran seorang pekabar Injil (dalam teks asli  disebut “misionari”), ialah untuk melakukan kehendak Allah, bukan untuk menjadi berguna atau untuk memenangkan jiwa yang terhilang. Seorang pekabar Injil memang berguna dan memenangkan jiwa yang terhilang, tetapi itu bukanlah sasarannya. Sasarannya adalah untuk melakukan kehendak Tuhannya.

Dalam kehidupan Tuhan kita, Yerusalem adalah tempat Dia mencapai puncak kehendak Bapa-Nya di kayu Salib, dan jika kita tidak pergi kesana dengan Yesus maka kita tidak mempunyai persekutuan dengan Dia. Tidak ada sesuatupun yang dapat mengalihkan perhatian Tuhan Yesus dari perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Dia tidak pernah bergegas meninggalkan kampung-kampung tertentu dimana Dia dianianya, atau berlama-lama di kampung-kampung lain ditempat Dia disambut. Rasa berterimasih atau tidak-berterimakasih orang-orang tidak satupun yang dapat mengalihkan Tuhan kita sedikitpun dari tujuan-Nya “pergi ke Yerusalem”

Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.” (Matius 10:24). Dengan kata lain, hal-hal sama yang terjadi atas Tuhan kita akan terjadi juga atas kita dalam perjalanan kita ke “Yerusalem” kita. Akan ada karya Allah yang dinyatakan melalui kita, orang-orang yang diberkati, dan satu atau dua orang akan menunjukkan rasa terima-kasih sementara selebihnya akan bersikap sebaliknya, tetapi tidak boleh ada sesuatupun yang mengalihkan kita dari langkah “pergi ke Yerusalem” kita.

mereka menyalibkan Yesus disitu…” (Lukas 23:33). Itulah yang terjadi ketika Tuhan Yesus mencapai Yerusalem, dan peristiwa itu adalah pintu menuju keselamatan kita. Namun bagi orang-orang percaya tidak berakhir pada penyaliban; dengan anugerah Tuhan mereka mengakhiri dalam kemuliaan. Semboyan setiap kita haruslah, “Saya juga pergi ke Yerusalem.”

Alkitab dalam setahun: Pengkhotbah 1-3; Galatia  2

mu160923

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s