Pertanyaan Yang Menghujam ke Hati

mu150301_kepedihan

 

“Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:17)

TANGGAPAN Petrus terhadap pertanyaan Yesus yang menghujam tersebut tidak ada kecuali, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau“, berbeda dengan tantangan penuh keberanian yang ditunjukkannya beberapa hari sebelumnya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau” (Matius 26:3 5; juga lihat ayat 33-34).

Memang, individualitas kita mudah mengaku dan menyatakan apa yang kita rasakan. Namun kasih pribadi sejati di dalam diri kita hanya dapat digugah melalui pengalaman pedihnya pertanyaan Yesus Kristus ini. Petrus mengasihi Yesus dengan cara lahiriah sebagaimana seseorang mengasihi orang yang baik. Namun itu hanyalah kasih emosional belaka. Hal itu mungkin menyentuh kedalaman diri lahiriah kita, namun tidak pernah menggugah roh seseorang.

Kasih sejati tidak pernah menyatakan apapun kecuali dengan tindakan. Yesus berkata, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia” – yaitu, mengakui kasih-Nya melalui segala sesuatu yang dilakukannya, bukan semata-mata dengan kata-katanya.

Jika kita belum mengalami kepedihan hati dikarenakan oleh setiap kecurangan (desepsi) dalam diri kita, Firman Allah belumlah mendapat tempat bagi pekerjaan-Nya dalam hidup kita.

Karena Firman Allah selalu mengerjakan rasa kepedihan dalam diri kita lebih dari yang dapat diakibatkan oleh dosa, karena dosa menumpulkan perasaan kita. Akan tetapi, pertanyaan Tuhan ini (”Apakah engkau mengasihi Aku?”) menguatkan kepekaan kita sampai pada suatu titik dimana kepedihan hati yang dikerjakan oleh Yesus ini merupakan kepedihan yang paling indah yang dapat dibayangkan.

Hal ini bukan hanya menyebabkan kepedihan biasa, tetapi secara pribadi dan mendalam. Seperti dikatakan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat… menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh“ – menusuk sangat dalam sampai tiada kepalsuan yang tidak diterangi dan dibukakan (Ibrani 4:12).

Ketika Tuhan mengajukan pertanyaan, ”Apakah engkau mengasihi Aku?”, tidaklah ada tempat bagi rasa sentimentil, Anda tidak dapat mengatakan yang manis-manis (pada-Nya) bila Tuhan berbicara langsung kepada Anda. Kepedihan itu terlalu sangat hebat.

Adalah kepedihan yang seperti itu yang membuat setiap alasan lain dalam hidup kita menjadi tidak berarti. Tidak pernah ada yang salah tentang rasa pedih dan duka yang diakibatkan oleh perkataan Tuhan yang datang kepada anak-anak-Nya; namun pada saat itulah Allah menyingkapkan kebenaran-Nya kepada kita.

 

Alkitab setahun: Bilangan 20-22; Markus 7:1-13

mu160301

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s