Pernahkah Anda Menyendiri Dengan Allah? (1)

ayat_140112_doa

 

“…. dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri (Markus 4: 34)

Kesendirian Kita Dengan Dia. Yesus tidak mengajak kita menyendiri dan menjelaskan banyak hal kepada kita sepanjang waktu; Dia menjelaskan banyak hal kepada kita sejauh kita sanggup memahaminya. Hidup orang lain hanyalah contoh bagi kita. Tetapi Allah membawa kita dengan berbagai cara agar kita menyelidiki diri kita sendiri.

Ini merupakan pekerjaan yang memakan waktu — sedemikian lambatnya sehingga Allah membutuhkan segenap waktu dan kekekalan untuk mengubah seorang pria atau wanita sesuai dengan maksud-Nya. Kita dapat dipakai Allah setelah kita mengizinkan Dia menunjukkan kepada kita segi-segi yang tersembunyi dalam karakter atau sifat kita sendiri.

Sungguh mengherankan betapa sedikitnya pengenalan kita terhadap diri kita sendiri! Kita bahkan tidak menyadari adanya iri hati, kemalasan atau kesombongan yang ada di dalam diri kita, sampai kita terkejut melihatnya, ketika Yesus menyingkapkan semuanya itu kepada kita, yang kita pendam dalam diri kita, sebelum anugerah-Nya mulai bekerja membongkarnya.

Berapa banyakkah di antara kita yang telah belajar memberanikan diri untuk melihat ke dalam batin kita?

Kita harus menyingkirkan pendapat bahwa kita memahami diri kita sendiri. Itulah selalu sisi kesombongan terakhir yang harus lenyap. Satu-satunya Pribadi yang dapat memahami kita adalah Allah.

Kutuk terbesar dalam kehidupan rohani kita adalah kesombongan. Kalau saja kita pernah mempunyai pandangan sekilas tentang diri kita di hadapan Allah, kita takkan pernah berkata, “Oh, aku sangat tidak layak”, karena seandainya kita mengetahui diri kita, kita tidak akan mampu berkata sepatah katapun. Akan tetapi, selama masih ada keraguan bahwa kita tidak layak, Allah akan terus membawa kita dekat pada-Nya sampai Dia dapat membuat kita menyendiri.

Bila ada unsur kesombongan atau keangkuhan yang masih tersisa, Yesus tidak dapat mengajar apa pun kepada kita. Dia akan mengizinkan kita mengalami patah hati atau kekecewaan ketika kesombongan intelektual kita yang terluka. Dia akan menyingkapkan berbagai afeksi atau hasrat yang keliru — hal-hal yang atas mana kita tidak pernah menyangka bahwa Dia sebenarnya ingin kita menyendiri dengan-Nya. Banyak hal diperlihatkan kepada kita – termasuk contoh tentang orang-orang lain – dan sering tanpa pengaruh bagi kita. Tetapi ketika Allah membawa kita menyendiri melihat hal-hal itu, semuanya menjadi jelas.

 

Alkitab setahun: Kejadian 29-30; Mateus 9:1-17

mu160112

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s