Penuh Perhatian Atau Kemunafikan Dalam Diri Kita?

mu140330_roh kudus

“… Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa ….. (1 Yohanes 5:16)

JIKA KITA tidak peduli dan tidak menaruh perhatian pada cara Roh Allah bekerja dalam diri kita, kita akan menjadi orang-orang munafik rohani. Kita melihat kegagalan orang lain, lalu kita menilai dan mengomentarinya dengan nada ejekan dan kritik, bukannya menjadikan hal itu menjadi doa syafaat bagi mereka.

Allah mengungkapkan kebenaran mengenai seseorang kepada kita bukan melalui ketajaman pikiran kita, melainkan melalui penerobosan langsung Roh-Nya. Jika kita tidak penuh perhatian, maka kita sama sekali tidak menyadari sumber pemahaman (discernment) yang diberikan Allah kepada kita, tetapi malah menjadi pengkritik orang lain dan melupakan sabda Allah, “hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut.

Waspadalah agar Anda tidak menjadi seorang munafik dengan menghabiskan seluruh waktu Anda dalam usaha mencoba meluruskan hubungan orang lain dengan Allah sebelum Anda sendiri menyembah Dia.

Salah satu beban yang kurang disadari dan dipahami, yang diletakkan Allah atas kita sebagai orang percaya, adalah beban untuk memahami keberadaan orang lain. Tuhan memberikan pemahaman ini kepada kita agar kita dapat menerima tanggung jawab bagi jiwa-jiwa itu di hadapan-Nya dan menaruh dalam hati kita pikiran Kristus mengenai mereka (lihat Filipi 2:5). Kita harus menjadi perantara atau pendoa syafaat sesuai dengan apa yang Allah katakan akan diberikan kepada kita, yaitu “hidup kepada mereka yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut”.

Dalam hal ini, bukan bahwa kita bisa membawa Allah kedalam hubungan atau kontak dengan dengan pikiran kita, tetapi kita membangkitkan diri kita sampai ke tahap yang menyanggupkan Allah untuk menyampaikan pikiran-Nya kepada kita mengenai orang yang kita doakan.

Dapatkah Yesus Kristus melihat keterbebanan jiwa-Nya yang dalam (akan jiwa orang lain) di dalam kita? Kita tidak dapat, kecuali jika kita dipersatukan sedemikian erat dengan Dia sehingga kita mempunyai hati-Nya dan pandangan-Nya mengenai orang-orang yang kita doakan.

Semoga kita belajar menjadi pendoa syafaat yang segenap hati sehingga Yesus Kristus sungguh puas dengan kita sebagai pendoa syafaat.

 

Alkitab setahun: Hakim-hakim 11-12; Lukas 6:1-26

mu160331

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s