Pengorbanan dan Persahabatan dengan Yesus

mu130825_joh 15_15

 

“Aku menyebut kamu sahabat…” (Yohanes 15:15)

KITA takkan pernah mengetahui sukacita pengorbanan-diri (self sacrifice) sebelum kita menyerah dalam setiap rincian atau aspek hidup kita.

Namun penyerahan-diri (self-surrender) adalah tindakan tersulit untuk dilakukan. Kita membuatnya bersyarat dengan mengatakan, “Aku akan menyerah jika……..!” Atau, kita mendekatinya dengan mengatakan, “Saya kira saya sudah mengabdi kepada Allah.” Kita tidak pernah mendapat sukacita pengorbanan-diri dalam hal  manapun dari kedua cara ini. Akan tetapi, begitu kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus, Roh Kudus memberi kita keindahan sukacita-Nya.

Sasaran utama pengorbanan-diri ialah menyerahkan hidup kita untuk Sahabat kita (lihat Yohanes 15:13-14). Bila Roh Kudus memasuki hidup kita, hasrat kita yang terbesar ialah menyerahkan hidup kita bagi Yesus.

Tuhan kita adalah teladan kita mengenai kehidupan pengorbanan-diri, dan Dia secara sempurna mencontohkan Mazmur 40:9, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku…..”. Dia menjalani pengorbanan diri yang luar biasa, namun dengan sukacita yang meluap-luap.

Sudah pernahkah saya menyerahkan diri dengan tunduk sepenuhnya kepada Yesus Kristus? Jika Dia bukan Pribadi yang kepadanya saya mencari petunjuk dan pimpinan, maka tidak ada manfaat pengorbanan saya . Akan tetapi, ketika pengorbanan saya dilakukan dengan mata tertuju kepada-Nya, perlahan tetapi pasti, pengaruh-Nya yang membangun dan membaharui menjadi nyata dalam hidup saya (lihat Ibrani 12:1-2).

Waspadalah membiarkan hasrat kodrati (dari dalam diri) merintangi Anda berjalan dalam kasih dihadapan Allah. Salah satu cara paling kejam untuk membunuh kasih kodrati atau lahiriah adalah melalui penolakan hasil kasih yang dibangun berdasarkan hasrat kodrati.  Akan tetapi hasrat yang benar satu-satunya dari seorang percaya adalah Tuhan Yesus. Kasih kepada Allah bukanlah sesuatu yang sentimental atau emosional — bagi seorang percaya, mengasihi seperti Allah mengasihi, merupakan hal paling praktis yang dapat dibayangkan.

Aku menyebut kamu sahabat…” Persahabatan kita dengan Yesus didasarkan pada hidup baru yang dikerjakan-Nya di dalam kita, yang tidak ada kesamaannya atau atraksinya terhadap kehidupan lama kita, tetapi hanya terhadap kehidupan dari Allah. Yaitu kehidupan yang sepenuhnya rendah hati, murni dan mengabdi kepada Allah.

 

Alkitab setahun: Mazmur 119:1-88; 1 Korintus 7:20-40

mu160825

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s