Panggilan Allah Yang Sukar Dimengerti

mu_160805_pelayan_hikmat tuhan

 

“…dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi…. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu.” (Lukas 18:31,34)

ALLAH memanggil Yesus Kristus untuk apa yang tampaknya merupakan bencana dahsyat – absolut disaster. Dan Yesus Kristus memanggil para murid-Nya untuk melihat Dia dibunuh, membawa mereka pada pengalaman yang menghancurkan hati. Hidup-Nya merupakan kegagalan mutlak dilihat dari setiap sudut pandang, kecuali sudut pandang Allah.

Akan tetapi, hal yang tampaknya berupa kegagalan dari sudut pandang manusia, justru merupakan kemenangan dari sudut pandang Allah, karena maksud Allah tidak pernah sama dengan maksud manusia.

Panggilan Allah yang sukar dimegerti dan mungkin membingungkan ini juga datang dalam kehidupan kita. Panggilan Allah tidak pernah dapat dinyatakan secara eksplisit; ia itu implisit. Panggilan Allah seperti ”panggilan laut”, tidak seorangpun mendengarnya kecuali seseorang pelaut, yang mempunyai ”panggilan laut” didalam dirinya.

Tujuan panggilan Allah kepada kita tidak dapat dinyatakan secara definit, karena panggilan-Nya itu adalah untuk masuk dalam persahabatan dengan-Nya untuk menggenapi maksud tujuan-Nya sendiri.

Ujian kita yang sesungguhnya ialah apakah kita benar-benar percaya bahwa Allah tahu akan hal yang diinginkan-Nya. Segala sesuatu yang terjadi tidaklah terjadi secara kebetulan – hal itu terjadi sepenuhnya oleh keputusan Allah. Allah berdaulat untuk melaksanakan maksud-Nya.

Jika kita ada dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah dan mengakui bahwa Dia menuntun kita ke dalam maksud tujuan-Nya, maka kita tidak lagi akan berupaya keras untuk mengetahui maksud-Nya. Sementara kita bertumbuh dalam kehidupan Kristen, hal itu menjadi lebih “sederhana” bagi kita, dan  kita tidak dengan mudah berkata, “Mengapa Allah mengizinkan hal ini atau hal itu terjadi pada saya?” Dan kita mulai melihat bahwa maksud Allah yang sesungguhnya ada di balik segala sesuatu dalam kehidupan kita, dan Allah secara ilahi membentuk kita kedalam kesatuan dengan maksud tujuan tersebut.

Seorang Kristen ialah seseorang yang mempercayai pengetahuan dan hikmat Allah, bukan mempercayai kemampuan sendiri. Jika kita mempunyai maksud tujuan sendiri, hal itu merusak kesederhanaan atau simplisitas dan langkah yang tenang, relaks, yang seharusnya menjadi karakteristik anak-anak Allah.

 

Alkitab setahun: Mazmur 68-69; Roma 8:1-21

mu150805

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s