Penahbisan Roh Kuasa

mu141127_kehendak tuhan

 

 

…sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Galatia 6:14).

JIKA saya melekat pada salib Kristus, maka saya bukan hanya menjadi seorang yang taat dan semata-mata hanya tertarik pada kesucian diri sendiri — saya sepenuhnya menjadi sangat fokus pada apa yang diinginkan Yesus Kristus.

Tuhan kita Yesus bukanlah seorang petapa atau pun seorang yang kudus fanatik yang mempraktekkan penyangkalan-diri. Ia tidak menarik diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, namun secara batiniah Ia tidak terikat (disconnected) dengan dunia ini. la tidak hidup terasing, namun Ia hidup di dunia lain. Bahkan karena Ia terlihat biasa seperti orang-orang yang lain dalam dunia ini sehingga para ahli taurat menuduhnya sebagai seorang yang rakus dan pemabuk. Namun Tuhan kita tidak pernah membiarkan apa pun mengganggu penahbisan kuasa roh-Nya.

Bukanlah pengabdian sejati jika kita berpikir bahwa kita dapat menolak untuk dipakai Allah sekarang ini sehingga kita dapat mengumpulkan kekuatan roh kita untuk digunakan di kemudian hari. Itu adalah kesalahan yang fatal. Roh Allah telah membebaskan banyak orang dari dosa-dosa mereka, namun mereka tidak mengalami hidup yang berkelimpahan.

Kehidupan beragama yang kita lihat di sekeliling kita sekarang ini sangatlah berbeda dengan kekudusan yang terpancar dari kehidupan Yesus Kristus. “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat” (Yohanes 17:15). Kita harus berada di dalam dunia namun bukan dari dunia — dipisahkan secara rohani, bukan jasmani (lihat Yohanes 17:16).

Kita tidak boleh membiarkan apa pun juga mengganggu penahbisan kuasa roh kita. Penahbisan (diserahkan untuk melayani Allah) adalah bagian kita; pengudusan (dipisahkan dari dosa dan dijadikan kudus) adalah bagian Allah.

Kita harus membuat keputusan dari hati terdalam untuk sungguh-sungguh tertarik  hanya pada hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk membuat keputusan tersebut, maka ketika kita dihadapkan dengan masalah yang sulit, kita harus bertanya pada diri sendiri, “Apakah ini hal-hal yang Yesus inginkan, atau apakah hal-hal ini justru sama sekali bertentangan dengan yang diinginkan oleh Yesus?”

 

Alkitab setahun: Jehezkiel 30 – 32; 1 Petrus 4

mu151127

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s