Pelayanan Kudus – November 9

mu140908

“Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus…” (Kolose 1:24).

PEKERJA Kristen haruslah menjadi “perantara” yang kudus. Ia harus dipersatukan sedemikian erat dengan Tuhannya dan realitas penebusan-Nya sehingga Kristus dapat secara terus-menerus membawa kehidupan-Nya  yang membangun dan membaharui melalui dia. Maksud saya bukanlah kekuatan pribadi seseorang yang mempengaruhi orang lain, tetapi kehadiran nyata Kristus memenuhi setiap aspek kehidupan pekerja tersebut.

Ketika kita berkhotbah mengenai fakta sejarah kehidupan dan kematian Tuhan kita sebagaimana disampaikan dalam Perjanjian Baru, maka kata-kata kita menjadi kudus. Allah menggunakan kata-kata ini, atas dasar penebusan-Nya, untuk menciptakan sesuatu dalam diri mereka yang mendengarkan, yang tidak akan pernah dapat dilakukan dengan cara lain.

Jika kita hanya berkhotbah mengenai pengaruh penebusan dalam kehidupan manusia dan bukan mengungkapkan kebenaran ilahi mengenai Yesus sendiri, maka hasilnya bukanlah kelahiran baru bagi mereka yang mendengarkan. Hasilnya adalah sekedar gaya hidup keberagamaan yang dipoles, tetapi Roh Allah tidak dapat menggunakannya menyaksikan Kristus karena khotbah seperti itu tidak sejalan dengan keinginan-Nya.

Kita harus memastikan bahwa kita hidup dalam keselarasan dengan Allah sedemikian rupa sehingga saat kita menyatakan kebenaran-Nya, maka Ia dapat menciptakan dalam diri orang lain (yang dilayani) hal-hal yang hanya Dia sendiri yang dapat melakukannya.

Ketika kita berkata, “Sungguh ia pengkhotbah dengan pribadi yang menakjubkan, mempesona, dan mempunyai wawasan yang luar biasa!”, maka kesempatan apakah yang dimiliki Injil Allah melalui semua hal itu? Hal itu tidak dapat menghasilkan apa-apa bagi pendengarnya, karena yang menjadi perhatian adalah pada pembawa berita, bukan pada pesan/berita Injil yang disampaikannya.

Jika seseorang pekerja atau pelayan menarik perhatian karena kepribadiannya, maka daya tariknya berhenti sampai disitu. Akan tetapi, jika ia dipersatukan dengan Tuhan sendiri, maka daya tariknya adalah pada hal-hal yang dapat dilakukan Yesus Kristus. Bahayanya adalah pemujaan atau memberi kemuliaan kepada manusia, sedangkan Yesus berkata kita harus meninggikan Dia saja (lihat Yohanes 12:32).

Alkitab setahun: Jeremia 46-47; Ibrani 6

mu151109

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s