Menerima Diri Sendiri Dalam Api Penderitaan

 

mu140625

 

….. apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!….” (Yohanes 12:27-28)

SEBAGAI seorang yang dikuduskan Allah, sikap saya terhadap penderitaan dan kesukaran tidak meminta untuk dijauhkan daripadanya, tetapi meminta agar Allah melindungi saya sehingga saya tetap menjadi seperti dimaksudkan-Nya menciptakan saya, walaupun di dalam api kedukaan.

Tuhan kita menerima diri-Nya sendiri, menerima tugas pekerjaan-Nya dan menyadari maksud tujuan-Nya, justru di tengah-tengah api penderitaan. Dia diselamatkan bukan dari saat (penderitaan) tersebut, melainkan keluar atau menang dari saat seperti itu.

Kita berkata bahwa seharusnya tidak ada dukacita, tetapi nyatanya ada, dan kita harus menyambut dan menerima diri kita sendiri di dalam apinya. Jika kita berusaha mengelak dari penderitaan, menolak berurusan dengannya, maka kita bodoh.

Penderitaan adalah salah satu fakta terbesar dalam kehidupan, dan tidak ada gunanya untuk mengatakan bahwa tidak seharusnya demikian. Dosa, dukacita, dan penderitaan itu ada, dan kita tidak berhak untuk berkata bahwa Allah telah berbuat salah dalam mengizinkan keberadaan dari hal-hal itu.

Penderitaan dalam banyak hal menyingkirkan kedangkalan seseorang, tetapi tidak selalu membuat orang tersebut menjadi lebih baik. Penderitaan membuat saya mengenali atau menemukan diri sendiri atau sebaliknya, dapat menghancurkan saya.

Anda tidak dapat menemukan atau menerima diri sendiri melalui keberhasilan, karena Anda akan besar kepala oleh kesombongan. Dan Anda tidak dapat menerima diri sendiri melalui keadaan hidup sehari-hari yang rutin dan monoton, karena kedaaan disanapun tidak bisa tidak membuat Anda mengeluh.

Satu-satunya cara untuk menemukan diri sendiri ialah di dalam api penderitaan. Mengapa harus demikian tidaklah penting. Faktanya ialah bahwa hal itu menjadi kebenaran di dalam Alkitab dan dalam pengalaman manusia.

Anda dapat mengenali orang yang telah mengalami api penderitaan, dan telah menerima diriya sendiri, dan Anda tahu bahwa Anda dapat pergi kepadanya pada saat kesukaran dan mendapati bahwa dia terbuka meluangkan waktunya bagi Anda.

Akan tetapi, jika seseorang belum mengalami api penderitaan, dia cenderung bersikap memandang rendah orang lain, tidak menaruh hormat atau tidak punya waktu bagi orang lain.

Jika Anda mau menemukan dan menerima diri sendiri di dalam api penderitaan, maka Allah akan menjadikan Anda berkat bagi orang lain.

 

Alkitab setahun: Ayub 3-4; Kisah Rasul 7:44-60

mu150625

3 thoughts on “Menerima Diri Sendiri Dalam Api Penderitaan

  1. Terimakasih sebelumnya untuk bahan renungan diatas. Saya masih kurang mengerti dengan api penderitaan yang dimaksud diatas. Saya juga sudah membaca kisah Ayub, apakah itu salah satu contoh yang dimaksudkan dalam Api Penderitaan?. Mohon penjelasan lebih lanjut. Gracias & God bless.

    • Tks Sdr. Topik “penderitaan” yg tidak pernah habis-habisnya. Saya mencoba menjawab.

      Kalau penulis (OC) menggunakan istilah api penderitaan, karena mau menekankan fungsi penyucian penderitaan bg org percaya. Kesalahan banayak kita, menjadikan penderitaan itu sebagai fokus. Ini pas dg jiwa kita yg cenderung iba diri.

      Tapi dari pihak Tuhan, Alah mau kita keluar dari padanya sbg pemenang dan menjadi berkat bagi orang lain. Allah mau kita lebih kenal Dia juga melalui penderitaan, seperti pengakuan Ayub: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (42: 2,5).
      Juga pengakuan Paulus, yang melalui penderitaan yang “Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati”, membuat proklamasi: “Terpujilah Allah, ….sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Kor 1: 9, 2-3).

      Juga Raja Daud, ketika dikejar-kejar Absalom dg pasukannyaa, dalam persembuannya menemukan dan memaklumkan jawaban yg menyala-jala dalam jiwanya: “Dari TUHAN datang pertolongan.”, dan lalu dengan keyakinan itu ia berkata, “Berkat-Mu atas umat-Mu!”. Lewat pertolongan yang dia lihat ada didalam Tuhan Allah, dia juga melihat disanalah sumber berkat bagi umat Tuhan yang diserahkan kepadanya untuk dipimpin.

      Yesus sendiri menjadi berkat yang penuh sepanjang jaman bagi orang percaya adalah lewat penderitaan dan kemenangan-Nya atasnya di kayu salib.

      Mudah-mudahan menolong. Tuhan berkati.
      https://twitter.com/theevertruth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s