Maksud Tujuan Allah Yang Sesungguhnya

mu160803_maksudtujuanallah

 

Yesus… berkata kepada mereka: ”Sekarang kita pergi ke Yerusalem.. ” (Lukas 18:3)

YERUSALEM, dalam kehidupan Tuhan kita, melambangkan tempat Dia mencapai puncak kehendak Bapa-Nya. Yesus berkata, “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30). ”Melakukan kehendak Bapa” adalah perhatian utama di sepanjang hidup Tuhan kita. Apa pun yang dihadapi-Nya sepanjang jalan, suka atau duka, keberhasilan atau kegagalan, tidak pernah menghalangi Dia dari maksud tersebut. “… Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Lukas 9:51).

Hal terpenting untuk kita ingat ialah pergi ke “Yerusalem” kita untuk menggenapi maksud Allah, bukan maksud kita sendiri. Dalam kehidupan biasa, kita berhak atas ambisi kita sendiri, tetapi dalam kehidupan Kristen kita tidak mempunyai sasaran (goal) kita sendiri.

Kita banyak berbicara dewasa ini tentang keputusan bagi Kristus, tekad kita menjadi orang Kristen, dan keputusan kita adalah untuk yang lain — ini dan itu. Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru, satu-satunya aspek yang dikedepankan ialah maksud tujuan Allah yang diwajibkan bagi kita. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16).

Menyadari maksud tujuan Allah (bagi kita) tidaklah hal yang mudah. Kita tidak mempunyai gagasan akan apakah yang menjadi sasaran/tujuan Allah; sementara kita terus jalan, maksud-Nya bisa jadi bahkan menjadi semakin lama semakin samar. Tujuan Allah tampaknya seperti telah gagal kita capai seperti dimaksudkan, karena kita terlalu rabun untuk  melihat dengan jelas tujuan yang ditetapkan-Nya.

Pada awal kehidupan Kristen, kita mempunyai gagasan sendiri mengenai apakah maksud tujuan Allah tersebut. Kita berkata, “Allah bermaksud agar aku pergi ke sana,” dan “Allah telah memanggilku melakukan tugas khusus ini.” Kita boleh saja melakukan hal yang kita sangka benar, namun maksud tujuan Allah yang ditetapkan-Nya, itulah yang menjadi tugas kita. Pekerjaan yang kita lakukan tidaklah berarti bila dibandingkan dengan maksud tujuan Allah yang ditetapkan-Nya. Pekerjaan kita hanya berupa tiang penyangga sementara dibanding dengan bangunan karya-Nya dan rencana-Nya.

Seperti dikatakan,“ Yesus mengumpulkan kedua belas pengikut-Nya tersendiri ….” (Lukas 18:31, BIS), demikianlah Ia setiap kali membawa kita menyingkir agar Ia dapat menyampaikan maksud-Nya yang ditetapkan-Nya bagi kita.

 

Alkitab setahun: Mazmur 63-65; Roma 6

mu160803

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s