Ketika Kegalauan datang – Tuhan sepertinya Jauh dan Asing

mu130315_stepping

 

…. orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut” (Markus 10:32).

PADA awal kehidupan kita dengan Yesus Kristus, kita yakin bahwa kita mengetahui semua hal tentang ikut Yesus. Saat itu adalah saat yang menyenangkan, “meninggalkan segala sesuatu” dan menyandarkan diri pada-Nya dalam suatu pernyataan kasih yang tidak mengenal rasa takut.

Akan tetapi, kemudian ada saat, kita tidak begitu yakin atau pasti. Yesus sepertinya berada jauh di depan kita dan tampaknya berbeda dan sepertinya kita asing dengan Dia. Seperti digambarkan dalam ayat diatas – “Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa takut” (Markus 10:32)*).

Memang ada satu aspek tentang Yesus yang menjadikan bahkan seorang murid tawar hati dan membuat seluruh kehidupan rohaninya mengap-mengap. Jesus, Pribadi yang luar biasa ini, yang wajah-Nya “seperti batu api” (Yesaya 50:7, NKJV) melangkah melesat di depan saya, dan menimbulkan rasa takut pada diri saya. Dia tidak lagi seperti Penasihat dan Sahabat saya. Dia sepertinya mempunyai sudut pandang yang tidak saya mengerti.

Yang dapat saya lakukan di saat seperti ini hanyalah berdiri dan menatap-Nya dengan keheranan. Pada mulanya saya yakin saya memahami-Nya, tetapi kini saya tidak pasti. Saya mulai menyadari adanya jarak antara Yesus dan saya, dan rasanya saya tidak lagi akrab dengan Dia. Saya tidak tahu kemana Dia pergi, dan tujuan-Nya menjadi terasa jauh dan asing.

Yesus Kristus harus memahami sepenuhnya setiap dosa dan dukacita yang dapat dialami manusia, dan itulah yang membuat Dia tampaknya kita tidak kenal. Bila kita melihat aspek ini tentang Dia, kita menyadari bahwa kita sesungguhnya tidak mengenal-Nya. Kita tidak mengenal bahkan satupun sifat hidup-Nya, dan kita tidak mengetahui bagaimana cara untuk mulai mengikut Dia. Dia berada jauh di depan kita, seorang Pemimpin yang tampaknya benar-benar tidak kita kenal, dan kita tidak mempunyai persahabatan dengan Dia.

“Disiplin kegalauan”, suatu pelajaran penting yang harus dipelajari oleh seorang murid. Bahayanya adalah kita cenderung menoleh kebelakang pada saat-saat ketaatan kita (dulu) dan pada pengorbanan-pengorbanan yang pernah kita berikan kepada Allah, dalam usaha membangkitkan kembali semangat kita kepada-Nya agar tetap kuat (lihat Yesaya 1: 10-11).

Akan tetapi, ketika awan gelap kegalauan datang, hadapilah itu sampai berakhir, karena dari situ akan timbul kesanggupan untuk mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh, yang akan mendatangkan sukacita yang ajaib dan tidak terkatakan.

 

Alkitab setahun: Ulangan 26-27; Markus 14:27-53

mu160315

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s