Ketaatan Pada ”Visi Surgawi”

mu140311_pantedbygod

 

Kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat” (Kisah Para Rasul 26:19).

JIKA kita kehilangan “penglihatan yang dari surga” yang telah diberikan Allah kepada kita, maka kita sendirilah yang bertanggungjawab — bukan Allah. Kita kehilangan visi surgawi itu karena kurangnya pertumbuhan rohani kita sendiri.

Jika kita tidak menerapkan iman percaya kita tentang Allah ke dalam urusan hidup kita sehari-hari, maka visi yang diberikan Allah kepada kita takkan pernah digenapi. Satu-satunya cara untuk mematuhi visi surgawi adalah memberikan seluruh pengabdian kita untuk meninggikan-Nya – yang terbaik dari kita untuk kemuliaan-Nya.

Ini dapat terlaksana hanya bila kita bertekad untuk terus mengingat dan mengingat kembali visi Allah. Tetapi ujian bagi ketaatan kita kepada visi tersebut adalah dalam detil hidup sehari-hari kita – dalam setiap detik atau menitnya – bukan hanya pada saat doa pribadi atau ibadah kebaktian.

Sebab penglihatan  ……; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu ….” (Habakuk 2:3). Kita tidak dapat menggenapi visi atau penglihatan itu dengan usaha kita sendiri, tetapi harus hidup di bawah ilhamnya sampai visi itu digenapi.

Kita dapat begitu sibuk dengan kegiatan sehingga kita lupa akan visi tersebut. Pada awalnya kita memberikan perhatian, namun kita tidak menantikannya. Kita dikejar-kejar oleh kegiatan dan ketika visi digenapi, kita bahkan tidak dapat melihatnya lagi.

Menantikan penglihatan yang “berlambat-lambat” itu merupakan ujian sesungguhnya dari kesetiaan kita kepada Allah. Kita sesungguhnya membiarkan hidup jiwa kita dalam bahaya dengan membiarkan diri kita terperangkap dalam berbagai kesibukan kegiatan kita, sehingga kehilangan penggenapan dari visi tersebut.

Perhatikanlah (datangnya) badai Allah. Satu-satunya cara Allah menumbuhkan orang percaya adalah melalui pusaran badai-Nya. Maukah Anda ternyata hanya ”kacang polong yang hampa tanpa buah kacang di dalamnya”? Itu akan tergantung pada benar atau tidaknya Anda hidup dalam terang visi yang telah Anda lihat.

Biarlah Allah mengutus Anda melalui badai-Nya, dan jangan pergi sebelum Dia melakukannya. Jika Anda memilih sendiri tempat Anda akan ditanam, maka Anda akan terbukti kelak tidak produktif seperti ”buah kacang polong yang hampa”. Namun, jika Anda mengizinkan Allah menanam Anda, Anda akan “berbuah banyak” (Yohanes 15:8).

Adalah penting bagi kita untuk hidup ”berjalan dalam terang” visi Allah bagi kita (1 Yohanes 1:7).

 

Alkitab setahun: Ulangan 14-16; Markus 12:1-27

mu150311

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s