Ketaatan Orang Percaya

mu160719_pertumbuhan _ketaatan

 

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yohanes 13.13)

TUHAN tidak pernah memaksakan otoritas -Nya atas kita. Dia tidak pernah berkata, “Kamu harus tunduk kepada-Ku.” Tidak. Dia membiarkan kita sebebas-bebasnya untuk memilih. Malah sedemikian bebasnya sehingga kita dapat meludahi wajah-Nya atau membunuh Dia, seperti yang telah dilakukan orang-orang lain kepada-Nya; namun Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun.

Akan tetapi, sekali hidup-Nya telah menjelma di dalam saya melalui penebusan-Nya, maka saya segera mengakui hak-Nya untuk mempunyai otoritas mutlak atas diri saya. Itu merupakan ”penguasaan” (dominasi) yang penuh dan efektif, yang di dalamnya saya mengaku “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak ...” (Wahyu 4:11).

Hanya ketidak-layakan dalam diri saya yang menolak untuk tunduk hormat dan menyerah kepada dia yang layak. Bila saya menjumpai seseorang yang lebih suci dari saya, dan saya tidak mengakui kelayakannya, dan juga tidak mematuhi apa yang diperintahnya kepada saya, maka itu merupakan pertanda ketidaklayakan saya sedang disingkapkan.

Allah mengajar kita dengan menggunakan orang-orang yang sedikit lebih baik dari kita. Dia terus-menerus berbuat demikian sampai kita bersedia untuk tunduk. Kemudian seluruh sikap hidup kita merupakan sikap ketaatan kepada-Nya.

Jika Tuhan memaksakan ketaatan kita, Dia hanya akan menjadi seorang mandor dan tidak lagi mempunyai otoritas yang sesungguhnya. Dia tidak pernah memaksakan ketaatan, tetapi jika kita benar-benar melihat Dia maka kita akan segera mentaati-Nya. Kemudian Dia dengan mudah dan menyenangkan menjadi Tuhan atas hidup kita, dan kita akan mengagumi Dia siang malam.

Tingkat pertumbuhan saya dalam kasih karunia dinyatakan oleh cara saya memandang ketaatan.

Kita seharusnya mempunyai pandangan yang lebih tinggi pada kata ketaatan. Ketaatan hanya mungkin tumbuh di antara orang-orang yang sepadan dalam hubungan mereka; seperti hubungan antara ayah dan anaknya, bukan antara majikan dan pelayannya.

Yesus menunjukkan hubungan ini dengan mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30). “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dan apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani 5: 8).

Anak Allah taat sebagai Penebus kita, karena Dia adalah Anak, bukan supaya Dia menjadi Anak  Allah.

 

Alkitab setahun: Mazmur 23-25; Kisah Rasul 21: 18-40

mu160719

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s