Jangan Menyakiti Hati Tuhan

 

mu150421_tuhan menuntun

Telah sekian lama Aku bersama-sana kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?” (Yohanes 14:9).

TUHAN pasti berulang kali heran akan kita – heran betapa ”tidak sederhananya” kita ini: pemikiran kita sendiri membuat betapa susah dan lambatnya kita mengerti. Jika kita sederhana, maka kita tidak akan menjadi bodoh, tetapi kita setiap kali akan mempunyai ketajaman pengertian dan pemahaman (discernment). Filipus mengharapkan penyingkapan rahasia masa depan, namun tidak dalam diri Yesus yaitu Pribadi yang disangkanya telah dikenalnya.

Rahasia Allah tidak dalam hal yang akan terjadi nanti, melainkan sekarang ini, walaupun kita menantikannya untuk diungkapkan nantinya dalam suatu peristiwa dan saat yang luar biasa.

Kita memang tidak mempunyai keengganan mentaati Yesus, tetapi kita sangat mungkin menyakiti hati-Nya melalui permintaan-permintaan kita – seperti murid itu, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.…”(Yohanes 14:8). Tanggapan Yesus dengan seketika dikemukakan balik dengan berkata, ”Tidak dapatkah kamu melihat Dia? Dia selalu ada di sini, dan disini, tidak di mana-mana.”

Kita berharap Allah menunjukkan diri-Nya kepada anak-anak-Nya, tetapi Allah hanya menunjukkan diri-Nya dalam anak-anak-Nya. Dan sementara orang lain melihat buktinya, anak Tuhan tidak. Kita ingin untuk sepenuhnya menyadari apa yang sedang dikerjakan Allah di dalam kita, namun kita tidak dapat mempunyai kesadaran penuh dan untuk tetap nalar atau seimbang dalam pengharapan kita akan Dia.

Jika yang sepenuhnya kita minta dari Allah untuk memberikan kepada kita pengalaman-pengalaman, dan kesadaran akan pengalaman tersebut merintangi jalan kita, sesungguhnya kita menyakiti hati Tuhan. Perhatikanlah bahwa pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya yang kita sampaikan menyakiti hati Yesus, sebab itu bukan pertanyaan seorang anak Tuhan.

Janganlah gelisah hatimu… (Yohanes 14:1,27). Adakah saya menyakiti hati Yesus dengan membiarkan hati saya gelisah? Jika saya mempercayai Yesus dan atribut/sifat Yesus, apakah saya hidup sesuai dengan iman percaya saya akan hal itu? Apakah saya membiarkan sesuatu menggelisahkan hati saya, atau membiarkan sesuatu pertanyaan yang tidak sehat atau tidak seimbang memasuki pikiran saya?

Saya harus mencapai hubungan yang mutlak dan tidak diragukan, yang menerima segala sesuatu sebagaimana itu datang dari Dia. Allah tidak pernah menuntun kita pada suatu waktu nanti di masa depan, tetapi senantiasa menuntun kita sekarang ini dan saat ini.

Sadarilah senantiasa bahwa Tuhan ada di sini sekarang ini, maka kebebasan Anda segera terima.

Alkitab setahun: 2 Samuel 12-13; Lukas 16

mu160421

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s