Iman, Bukan Emosi

mu160501_pelayanan_inspirasi.jpg

 

 

sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7)

ADA saat-saat kita sangat menyadari perhatian Allah bagi kita. Tapi kemudian, ketika Allah mulai memakai kita dalam pekerjaan-Nya, kita mulai kehilangan sukacita, dan bicara hanya tentang cobaan dan kesulitan.

Dan semuanya itu dibiarkan Allah terjadi karena Ia sedang mencoba membuat kita melakukan pekerjaan pelayanan kita sebagai orang yang tersembunyi, yang tidak dalam sorotan. Tak satu pun dari kita akan mengalami hal demikian secara rohani jika kita berjalan menurut emosi kita.

Dapatkan kita melakukan pekerjaan pelayanan kita ketika tampaknya Allah telah menutup surga?

Beberapa dari kita selalu ingin menjadi orang-orang percaya yang ceria dan berseri, membayangkan diri kita seperti orang-orang kudus dengan “lingkaran kilau emas diatas kepala” dengan terang ilham atau inspirasi yang terus-menerus, dan dikelilingi orang-orang percaya lainnya yang selalu mendukung kita sepanjang waktu.

Seorang percaya yang yakin-diri dan bersandar pada diri sendiri tidak berguna bagi Allah. Orang percaya seperti itu tidak sebagaimana seharusnya, dan tidak layak untuk kehidupan pelayanan sehari-hari, dan sama sekali tidak seperti Allah kehendaki.

Kita dimaksudkan Allah disini, bukan sebagai “malaikat yang belum sempurna”, tapi sebagai pria dan wanita, untuk melakukan pekerjaan-Nya dunia ini. Dan kita percaya melakukan itu dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk menahan berbagai pergumulan karena kita telah lahir dari atas.

Jika kita terus mencoba hidup seperti saat-saat penuh inspirasi yang luar biasa itu, itu merupakan pertanda bahwa bukan Allah yang kita inginkan. Tapi kita terobsesi dengan saat-saat ketika Allah sungguh dirasakan datang dan berbicara dengan kita, dan lalu kita mendesak agar Ia melakukannya dan melakukannya kembali. Namun apa yang Allah ingin kita lakukan adalah untuk “berjalan dengan iman.”

Berapa banyak dari kita telah membuang waktu berputar-putar disini dan berpikir, “Aku tidak dapat melakukan hal lain sampai Allah menyatakan diri kepadaku”?

Allah tidak akan pernah melakukan hal itu. Kita sendiri harus bangkit, tanpa inspirasi apapun dan tanpa sentuhan sekonyong-konyong dari Allah. Maka, kemudian datanglah kejutan dan kita terhenyak, dan kita berseru, “Wah, mengapa Dia ada di sana sepanjang waktu, dan aku tidak pernah tahu!”

Jangan pernah hidup untuk saat-saat yang khusus seperti disebutkan diatas. Hal itu akan datang dengan tanpa bisa diduga. Allah akan memberi kita sentuhan inspirasi-Nya hanya ketika Ia melihat bahwa kita tidak dalam bahaya terseret oleh saat-saat seperti itu.

Kita jangan pernah mempertimbangkan saat-saat terinspirasi sebagai cara patokan atau norma hidup kristiani atau pelayanan. Pekerjaan itu sendirilah menjadi patokan kita.

 

Alkitab setahun: 1 Raja-raja 10-11; Lukas 21:20-38

mu160501

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s