Hubungan Yang Suci Atau Sikap Menuntut Terhadap Allah?

mu140330_doa

… dan Ia tertegun karena tidak ada pendoa syafaat...” (Yesaya 59:16 KJV)

ALASAN (mengapa) banyak di antara kita yang berhenti berdoa dan menjadi penuntut terhadap Allah karena kita hanya mempunyai perhatian emosional atau sentimental dalam doa. Kedengarannya enak mengatakan bahwa kita berdoa, dan kita membaca buku-buku tentang doa yang menyatakan bahwa doa itu bermanfaat, yang mengatakan bahwa pikiran kita ditenangkan dan jiwa kita terangkat bila kita berdoa. Akan tetapi, Yesaya menyiratkan dalam ayat diatas bahwa Allah tertegun akan pendapat demikian tentang doa.

Ibadah/penyembahan dan doa syafaat harus berjalan seiring; yang satu tidak mungkin tanpa yang lain. Doa syafaat berarti mengangkat diri kita sampai ke tahap memperoleh pikiran Kristus mengenai orang yang kita doakan (lihat Filipi 2:5). Namun sebagai ganti dari menyembah Allah, kita mendikte Allah tentang bagaimana seharusnya jawaban doa kita. Apakah kita sedang menyembah Allah atau berbantah dengan Dia ketika kita berkata, “Tetapi Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana Engkau akan melakukan hal ini?’ Ketika kita mempertanyakan bagaimana Allah menjawab doa kita membuktikan bahwa kita tidak sedang menyembah Dia.

Bila kita kehilangan pemahaman yang benar akan Tuhan, kita menjadi mengedepankan tuntutan-tuntutan kita dan menyampaikannya menurut pengetahuan intelektual/dogmatis kita. Kita melemparkan permohonan kita ke takhta-Nya dan mendikte Dia tentang hal-hal yang kita ingin Dia lakukan.

Dalam hal ini kita tidak menyembah Allah, dan juga tidak mencari menyelaraskan pikiran kita sesuai dengan pikiran Kristus. Dan jika kita bersikap menuntut terhadap Allah, kita akan bersikap demikian terhadap orang lain.

Apakah kita telah menyembah Allah dengan suatu cara yang akan mengangkat kita ke tempat dimana kita dapat merasakan berada disamping-Nya, mempunyai hubungan yang begitu akrab dengan Dia sehingga kita mengetahui pikiran-Nya tentang orang yang kita doakan? Apakah kita sedang hidup dalam hubungan yang suci dengan Allah, atau kita telah bersikap menuntut dan dogmatis?

Apakah Anda berpikir bahwa tidak ada orang yang menjadi pendoa syafaat yang benar? Jika demikian biarlah Anda sendiri yang menjadi pendoa syafaat. Jadilah seorang yang menyembah Allah dan hidup dalam hubungan yang suci dengan Dia. Libatkan diri Anda dalam tugas doa syafaat yang sungguh-sungguh, dengan mengingat bahwa itu benar-benar adalah tugas — tugas yang menuntut semua energi, namun tugas yang tidak memiliki ”jebakan” tersembunyi. Memberitakan Injil ada ”jebakannya”, tetapi doa syafaat  (pribadi kepada Tuhan) sama sekali tidak mengandung unsur itu.

 

Alkitab setahun: Hakim-hakim 9-10; Lukas 5:17-39

mu160330

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s