Doa Syafat (Pribadi) Yang Sungguh dan Hidup

mu130421_pray

 

Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan …. dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang …. ”(Efesus 6:18)

PADA perjalanan doa syafaat kita bagi orang lain, kita mungkin menemukan bahwa ketaatan kita kepada Allah dalam berdoa syafaat akan merugikan mereka untuk siapa kita berdoa – suatu hal yang tidak kita sadari atau pernah pikirkan.

Bahayanya disini adalah bahwa kita mulai berdoa syafaat dengan bersimpati dengan orang yang oleh Allah diangkat secara bertahap ke tingkat yang secara total berbeda dengan jawaban langsung atas  doa kita.

Apabila kita melangkah mundur dari kesatuan kita dengan perhatian dan keperdulian Allah untuk orang lain dan masuk kedalam simpati emosional terhadap mereka, maka hubungan yang hidup dengan Allah akan hilang. Kita kemudian menempatkan simpati kita dan kepedulian bagi mereka didepan, dan sepertinya kita  menyalahkan Tuhan.

Adalah tidak mungkin bagi kita untuk memiliki hidup dan doa syafaat yang penting artinya kecuali kita sungguh-sungguh dan benar-benar yakin akan Allah. Dan musuh terbesar dari hubungan yang penuh keyakinan akan Tuhan yang begitu penting dalam doa syafaat, adalah bias simpati pribadi dan prasangka kita.

Identifikasi atau penyatuan diri dengan Allah, dengan perhatian dan keperdulian (concern)-Nya adalah kunci doa syafaat, dan setiap kali kita berhenti menyatu dengan-Nya, adalah karena mengedepannya dorongan simpati kita dengan orang tersebut dan oleh bukan dosa. Artinya, tampaknya bukan dosa yang akan menjadi penghalang dalam hubungan permohonan doa safaat kita dengan Allah, tetapi simpati kita. Adalah simpati dengan diri kita sendiri atau dengan orang lain yang membuat kita berkata, “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Dan dengan seketika itu juga kita keluar dari hubungan yang hidup dengan Allah.

Doa syafaat yang hidup akan meluputkan Anda baik dari masalah waktu maupun kecenderungan berdoa karena “rasa sedih dan iba” Anda. Anda tidak harus berjuang untuk menjaga pikiran yang melayang-layang, karena tidak ada pikiran-pikiran yang demikian dalam doa syafaat yang hidup. Anda benar-benar dan sepenuhnya dipersatukan dengan maksud dan kehendak serta keprihatinan Allah dalam kehidupan orang lain (yang Anda doakan).

Allah memberi kita ketajaman melihat kehidupan orang lain untuk memanggil kita untuk berdoa syafaat bagi mereka, suatu pengalaman yang belum pernah sebelumnya, dalam mana membuat bahkan kita tidak menemukan kesalahan mereka.

 

Alkitab setahun: 1 Raja-raja 10-11; Lukas 21:20-38

mu160503

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s