Bila Keraguan Tentang Yesus Menyelinap

mu160226_keraguanttgyesus

 

“Kata perempuan itu kepada-Nya: ‘Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam” (Yohanes 4:11)

PERNAHKAH Anda berkata kepada diri sendiri, “Aku terkesan dengan kebenaran-kebenaran ajaib dari Firman Allah, tetapi sesungguhnya Dia tidak mungkin mengharapkan aku hidup sesuai dengannya dan menerapkan semuanya!”

Ketika diperhadapkan dengan Yesus Kristus dalam hal sifat dan kemampuan-Nya, sering sikap kita mencerminkan keberagamaan dan kesalehan yang tampak hebat dari luar, tampak ideal dan mengesankan, akan tetapi ketika bersentuhan dengan hal-hal nyata, kita ragu apakah yang dikatakan-Nya itu dapat dilaksanakan.

Setiap kita, dalam berbagai segi kehidupan kita, dapat dan pernah berpikir seperti ini tentang Yesus. Kebimbangan atau mendua-hati (misgiving)*) tentang Yesus mulai timbul pada saat kita mempertimbangkan hal-hal atau pertanyaan yang membelokkan perhatian kita dari Allah. Misalnya, ketika kita berbicara tentang panggilan pelayanan Tuhan, lalu seseorang menanyakan, “Dari mana Anda mendapatkan cukup uang untuk hidup? Bagaimana Anda akan hidup dan siapa yang akan mengurusi Anda?”

Atau keraguan kita mulai timbul dalam diri kita, ketika kita mulai berpikir dan mengatakan kepada Yesus bahwa situasi kita terlampau sulit bagi-Nya. Kita berkata, “Memang mudah berkata, “Percayalah kepada Tuhan”, namun orang kan harus hidup; dan selain itu Yesus “tidak mempunyai timba untuk mengambil air” – tidak ada sarana yang mampu memberi semua ini untuk kita”.

Dan waspadalah terhadap tampilnya kebohongan agama dengan mengatakan, “Ah, aku tidak mempunyai keraguan tentang Yesus, hanya keraguan tentang diriku sendiri”.

Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa kita tidak pernah mempunyai kebimbangan atau keraguan tentang diri kita sendiri, karena kita tahu dengan tepat kemampuan dan keterbatasan kita untuk berbuat sesuatu.

Akan tetapi, kita memang terkadang dihinggapi keraguan tentang Yesus. Dan keangkuhan kita bahkan terluka akibat pemikiran bahwa Dia dapat melakukan hal yang tidak dapat kita lakukan. Keraguan saya timbul dari fakta bahwa saya mencari-tahu didalam diri saya cara Dia melakukan hal yang diucapkan-Nya. Keraguan saya timbul dari rasa rendah-diri saya.

Jika saya menemukan keraguan ini ada dalam diri saya, seharusnya saya membawanya dalam terang dan dan mengakuinya secara terbuka — “Tuhan, aku menaruh keraguan tentang diri-Mu. Aku tidak mempercayai kesanggupan-Mu, hanya kesanggupanku sendiri. Dan aku tidak mempercayai kemahakuasaan-Mu di luar pemahamanku yang terbatas mengenal hal itu”.

 

Alkitab setahun: Bilangan 15-16; Markus 6:1-29

mu160226

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s