Apa yang Anda ingin Tuhan lakukan untuk Anda

mu160229_mustahil

 

“Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” – Lukas 18:41

Apakah ada masalah dalam hidup Anda yang tidak hanya mengganggu Anda, tetapi membuat Anda gangguan bagi orang lain? Jika demikian, hal itu selalu karena Anda tidak bisa menangani diri Anda sendiri.

Kita baca, “Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!

Berkokohlah dengan apa yang Anda hadapi sampai Anda bertemu muka dengan muka dengan Tuhan sendiri. Jangan mendewakan akal sehat. Duduk berpangku tangan, bukannya beranjak sekalipun itu menjadi gangguan bagi orang lain, berarti hanya membiarkan diri terbelenggu oleh akal sehat kita. Ketika Yesus bertanya apa yang kita ingin Dia lakukan untuk kita dalam hal masalah yang luar biasa yang kita hadapi, ingatlah bahwa Dia tidak bekerja dengan cara yang masuk akal, tetapi hanya dengan cara supranatural.

Lihatlah bagaimana kita membatasi Tuhan dengan hanya mengingat apa yang telah kita izinkan Dia lakukan untuk kita di masa lalu. Kita berkata, “Aku selalu gagal di sini, dan saya akan gagal lagi.” Akibatnya, kita tidak meminta apa yang kita inginkan. Sebaliknya, kita berpikir, “Konyollah untuk meminta Allah melakukan hal seperti ini.”

Jika yang Anda hadapi sesuatu kemustahilan, justru itulah seharusnya kita minta pada-Nya. Jika itu bukan hal yang mustahil, itu namanya bukan masalah nyata. Dan Allah akan melakukan apa yang benar-benar mustahil.

Orang buta dalam teks ni menerima penglihatan dari Tuhan – ia dicelikkan. Tetapi yang paling tidak mungkin bagi Anda adalah untuk menjadi begitu erat dipersatukan dengan Tuhan sehingga secara harafiah tidak ada lagi hidup lama Anda yang tersisa. Allah akan melakukannya jika Anda meminta kepada-Nya. Tapi Anda harus sampai pada titik percaya kepada-Nya sebagai yang Mahakuasa. Kita harus sampai pada iman yang tidak hanya percaya akan apa yang Yesus katakan, tetapi bahkan lebih lagi, dengan mempercayakan diri, trusting, pada Yesus sendiri.

Jika kita hanya melihat apa yang Dia katakan, kita tidak akan pernah percaya. Sekali kita sungguh-sungguh melihat Yesus, hal-hal yang mustahil Dia lakukan dalam hidup kita menjadi sewajar seperti halnya bernapas. Kegetiran yang kita alami hanyalah akibat atau hasil dari kedangkalan hati kita yang kita biarkan. Kita tidak mau percaya; kita tidak mau berangkat pergi dengan melepas atau memutuskan tambang yang menambat perahu kita ke daratan – artinya kita lebih suka berkhawatir.

 

Alkitab setahun: Bilangan 20-22; Markus 7:1-13

Advertisements