Sukacita dalam Berkorban

 

mu160224_melayani_memenangkan

 

Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu” (2 Korintus 12:15).

PADA saat “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Roma 5:5), maka dengan sukarela kita mulai menyatukan diri dengan perhatian dan maksud Yesus Kristus dalam kehidupan orang lain. Dan Yesus menaruh perhatian pada setiap orang.

Dalam pelayanan Kristen kita tidak berhak dipimpin oleh kepentingan dan hasrat kita sendiri. Dan fakta, inilah ujian terbesar dalam hubungan kita dengan Yesus Kristus. Sukacita dalam berkorban adalah bahwa saya menyerahkan hidup saya untuk Sahabat saya, Yesus (lihat Yohanes 15:13). Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup saya, tetapi dengan rela dan kesungguhan menyerahkannya bagi Dia dan bagi perhatian-Nya bagi orang lain. Dan saya melakukan hal ini bukan untuk alasan atau maksud saya sendiri.

Paulus mengorbankan hidupnya hanya untuk satu maksud — agar dia dapat memenangkan manusia bagi Yesus Kristus. Paulus selalu menarik manusia kepada Tuhannya, tidak pernah kepada dirinya sendiri. Dia mengatakan, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1 Korintus 9:22).

Apabila seseorang menyangka bahwa untuk membangun suatu hidup suci dia harus selalu menyendiri dengan Allah, maka dia tidak lagi berguna bagi orang lain. Paulus adalah seorang suci, tetapi ke mana pun dia pergi dia selalu mengizinkan Yesus Kristus memakai hidupnya.

Banyak di antara kita yang hanya menaruh minat pada maksud tujuan kita sendiri, dan dalam hal ini Yesus tidak dapat memaksakan Diri-Nya kedalam hidup kita. Akan tetapi, jika kita menyerah sepenuhnya kepada-Nya, kita tidak akan mempunyai tujuan sendiri dalam melayani. Paulus berkata bahwa dia mengetahui cara menjadi sebuah “keset’ tanpa merasa pahit dan terhina, karena motivasi hidupnya adalah pengabdian (devotion) kepada Yesus.

Kita cenderung mengabdi, bukan kepada Yesus tetapi pada hal-hal yang lebih memberi kebebasan rohani bagi kita, dan justru hal ini menjadi penghalang bagi penyerahan total kepada Yesus. Kebebasan sama sekali bukanlah yang menjadi motif bagi Paulus. Malah ia menyatakan, “Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku” (Roma 9:3).

Apakah Paulus telah kehilangan kemampuan berpikir nalar? Tidak sama sekali! Karena bagi seseorang yang sedang ”jatuh cinta”, (pernyataan seperti) ini bukan pernyataan yang berlebihan. Dan Paulus mengasihi Yesus Kristus.

 

Alkitab setahun: Bilangan 9-11; Markus 5:1-20

mu160224

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s